25 November 2020

Berita Indonesia dan Dunia, Kabar terbaru terkini, Politik, Peristiwa, Bisnis, Bola, Teknologi dan Peristiwa

Ternyata Pemimpin Tertinggi ke-2 Al-Qaeda Terbunuh di Iran pada Bulan Agustus lalu

CNNdaily – Jakarta, Pemimpin tertinggi ke-2 Al Qaeda Abdullah Ahmed Abdullah atau Abu Muhammad Al-Masri disebut terbunuh di Iran bulan Agustus lalu. Hal ini telah dikonfirmasi oleh pejabat intelijen.

Abu Muhammad Al-Masri dituduh sebagai salah satu dalang serangan mematikan pada 1998 silam terhadap kedutaan besar Amerika Serikat (AS) di Afrika.

Mengutip NYTimes, Al-Masri meninggal di sebuah jalan di Teheran, Iran. Dia dibunuh oleh dua orang pembunuh bersepeda motor pada 7 Agustus 2020, saat serangan peringatan serangan kedutaan.

Putrinya yang bernama Miriam juga terbunuh. Diketahui, Miriam adalah seorang janda dari putra Osama bin Laden, yakni Hamza bin Laden.

Menurut empat pejabat setempat, serangan itu dilakukan oleh operasi Israel atas perintah AS. Namun, belum jelas sebenarnya peran apa yang dimainkan oleh AS yang melacak pergerakan Al-Masri dan operasi Qaeda lainnya di Iran selama bertahun-tahun.

Pembuhuhan itu terjadi di bawah intrik geopolitik, sehingga kematian Al-Masri telah dikabarkan tetapi tidak pernah dikonfirmasi sampai sekarang. Untuk alasan yang belum jelas, Al-Qaeda pun belum mengumumkan kematian Al-Masri.

Baca Juga :  Jenazah Afridza Munandar Tiba di Bandara Soetta

Pejabat Iran ikut menutupi kabar tersebut. Selain itu, tak ada negara yang secara terbuka mengaku bertanggung jawab atas hal tersebut.

Ayah dari Al-Masri yang berusia sekitar 58 tahun adalah salah satu pemimpin pendiri Al-Qaeda. Ia dianggap sebagai orang pertama yang memimpin organisasi setelah pemimpinnya saat ini, yaitu Ayman Al-Zawahri.

Buronan FBI

Pemimpin tertinggi ke-2 Al Qaeda, Al-Masri sendiri telah lama menjadi daftar dari teroris paling dicari oleh Biro Investigasi Federal (FBI). Ia didakwa di AS atas kejahatan yang terkait dengan pemboman kedutaan besar AS di Kenya dan Tanzania.

Pemboman itu telah menewaskan 224 orang dan melukasi ratusan warga. FBI pun sempat menawarkan hadiah berupa US$10 juta bagi masyarakat yang bisa memberikan informasi mengenai Al-Masri.

Pejabat intelijen AS mengatakan bahwa Al-Masri berada di tahanan Iran sejak 2003. Namun, ia telah hidup bebas di distrik Pasdaran di Taheran sejak 2015.

Saat hari pembuhannya, pukul 09.00 waktu Iran, dia sedang mengendarai sedang Renault L90 bersama putrinya di dekat rumah. Kemudian, dua pria bersenjata dengan sepeda motor berhenti di sampingnya.

Baca Juga :  Pasien Sembuh Corona di Kalbar Capai 90.8 Persen Lebih

Pemimpin Tertinggi ke-2

Lima tembakan dilepaskan dari pistol yang dilengkapi dengan peredam. Empat peluru pun tembus ke dalam mobil melalui sisi pengemudi dan peluru kelima menghantam mobil di dekatnya.

Ketika berita penembakan itu menyebar, media berita resmi Iran mengidentifikasi para korban sebagai Habib Daoud. Ia adalah seorang profesor sejarah Libanon dan putrinya bernama Maryam berusia 27 tahun.

Saluran berita Libanon MTV dan akun media sosial yang berafiliasi dengan Korps Pengawal Revolusi Islam Iran melaporkan bahwa Daoud adalah anggota Hizbullah. Diketahui, Hizbulloh adalah organisasi militan yang didukung Iran di Libanon.