22 April 2021

Berita Indonesia dan Dunia, Kabar terbaru terkini, Politik, Peristiwa, Bisnis, Bola, Teknologi dan Peristiwa

jokervip

Polusi Udara Sejumlah Negara Turun Saat Pandemi Corona, Bagaimana Indonesia?

CNNdaily – Jakarta, COVID-19 bukan hanya soal sakit dan kematian. Di balik itu, dari Venesia hingga Beijing, Los Angeles sampai Bangalore, pandemi Virus Corona jenis baru telah melahirkan langit biru dan air jernih yg rendah polusi.  

Membaiknya kualitas udara dan lingkungan global, merupakan dampak tak terduga dari melemahnya ekonomi akibat pandemi Virus Corona COVID-19. Virus ini telah mendorong roda ekonomi global hingga hampir berhenti ketika pandemi melanda dunia.

Banyaknya pabrik-pabrik tutup dan mobil-mobil yang terparkir di garasi, membuat polusi udara mereda di sejumlah kota dunia. Seperti di Ibu Kota China, Beijing, yang dikenal karena tingkat polusi beracun yang mencekik paru-paru, memiliki pemandangan langit cerah yang tidak biasa karena pabrik-pabrik di kawasan itu menghentikan produksinya.

Gambar satelit dari Badan Antariksa Eropa (ESA) menunjukkan berkurangnya tingkat nitrogen dioksida, produk sampingan dari pembakaran bahan bakar fosil yang menyebabkan masalah pernapasan. Pemandangan itu tampak di seluruh kota besar di benua itu termasuk Paris, Madrid, dan Roma ketika negara-negara terkunci atau lockdown dan membatasi perjalanan mencegah penyebaran COVID-19.

Baca Juga :  Ikut Challenge Pria Berumur 42 Tahun meninggal Saat Makan Telur ke 42

Kota-kota di seluruh Amerika Serikat juga telah mengalami efek yang sama ketika warganya tinggal di rumah pada kota-kota yang rawan macet seperti Los Angeles dan New York.

polusi

Di China, penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia, emisi karbon dioksida turun seperempatnya pada pertengahan Februari dibanding beberapa pekan sebelumnya, menurut analisis yang diterbitkan dalam Carbon Brief. Para ilmuwan mencatat penurunan serupa di polutan lain seperti nitrogen dioksida dan partikel di negara itu, yang telah bertahun-tahun berusaha membersihkan udara yang tersumbat asap.

“Dalam hal pergeseran atau perubahan yang benar-benar terjadi dalam semalam, ini sangat dramatis,” kata Lauri Myllyvirta, penulis laporan Carbon Brief dan analis utama di Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih.

Secara teori, penurunan tajam dalam polusi dan emisi karbon ini merupakan perkembangan positif bagi Bumi dan manusia yang hidup di dalamnya. Polusi udara berkontribusi terhadap jutaan kematian di seluruh dunia setiap tahun, memperburuk penyakit kardiovaskular, dan kesehatan pernapasan.

Udara yang lebih jernih juga dapat memberikan pertolongan singkat bagi mereka yang positif Virus Corona COVID-19, membuatnya lebih mudah untuk bernapas untuk pasien yang berjuang, meskipun para ahli kesehatan mengatakan bahwa paparan polusi selama bertahun-tahun kemungkinan membuat banyak orang lebih rentan terhadap penyakit ini.

Baca Juga :  Kabareskrim : Sumber Api di Kejagung Bukan Berasal Dari Arus Pendek

“Kerusakan sudah terjadi,” kata Sascha Marschang, penjabat sekretaris jenderal Aliansi Kesehatan Masyarakat Eropa dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari Time. “Bertahun-tahun menghirup udara kotor dari asap lalu lintas dan sumber-sumber lain akan melemahkan kesehatan semua orang yang sekarang terlibat dalam pertarungan hidup atau mati.”