22 Januari 2021

Berita Indonesia dan Dunia, Kabar terbaru terkini, Politik, Peristiwa, Bisnis, Bola, Teknologi dan Peristiwa

TKI di Malaysia Kembali Mengalami Penyiksaan, Disiram Air Panas hingga Tak Diberi Makan

CNNdaily – Jakarta, Pekerja migran Indonesia di Malaysia kembali mengalami penyiksaan oleh majikan. Kali ini dialami TKI berinisial MH di Kuala Lumpur.

MH mengalami penyiksaan mulai pemukulan dengan benda tumpul, disayat benda tajam, disiram air panas dan tidak diberi makan. Saat ini MH berada di RS Kuala Lumpur untuk mendapatkan perawatan.

“MH berhasil diselamatkan PDRM pada tanggal 24 November 2020 berdasarkan informasi awal yang diberikan LSM Tenaganita dan berkoordinasi dengan KBRI Kuala Lumpur,” tulis Kementerian Luar Negeri RI dalam situs resmi kemlu.go.id, Kamis (26/11).

Menurut Kemlu, majikan MH juga telah ditahan.

Indonesia mengecam keras berulangnya kasus penyiksaan pekerja migran terutama di sektor domestik oleh majikan di Malaysia.

Terakhir adalah kasus Almh. Adelina Lisau di Penang dimana hingga saat ini majikan belum mendapatkan ganjaran hukum atas perbuatannya.

Indonesia meminta otoritas Malaysia melakukan pengawasan yang ketat terhadap majikan, menjamin pelindungan yang baik terhadap pekerja migran serta melakukan penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku.

Indonesia juga mendorong penyelesaian segera perpanjangan MoU penempatan pekerja sektor domestik yang telah berakhir sejak 2016.

Baca Juga :  6 Bau Yang Menjadi Tanda Keberadaan Makhluk Halus di Sekitarmu!

KBRI Kuala Lumpur akan terus mendampingi MH dan akan menunjuk pengacara retainer untuk memonitoring proses penegakan hukum terhadap majikan sesuai hukum yang berlaku.

Dihukum 10 bulan Penjara Di Singapura

Sementara itu. Nuur Audadi Yusoff, majikan penganiaya Asisten Rumah Tangga (ART) asal Indonesia, Sulis Setyowati, di Singapuradijatuhi hukuman penjara selama 10 bulan lebih dua minggu.

Dilansir Straits Times pada Sabtu (21/11), Nuur terbukti berkali-kali menyiksa Sulis, termasuk menampar wajah dan menjambak rambutnya dalam rentang waktu antara Januari dan April 2018.

Dalam putusan hukuman pada Rabu (18/11), hakim wilayah Ronald Gwee mengatakan perbuatan Nur menyebabkan korban menjadi kerap ‘berbicara sendiri’.

Hakim juga menyebut Sulis mempertaruhkan nyawanya untuk melarikan diri dari penyiksaan itu dengan nekat menuruni balkon apartemen majikannya dari lantai 15 di Yishun.

Hakim menilai perlu hukuman yang membuat jera untuk memberi pesan kepada semua orang bahwa kekejaman seperti itu tidak dapat diterima.

Pihak pengadilan menyatakan bahwa Nuur beberapa hari lalu telah memberi kompensasi kepada Sulis lebih dari Sin$7.000 atau sekitar Rp70 juta.

Baca Juga :  Takut Dicerai Suami Karena Anak Kurus, Ibu Ini Paksa Anaknya Minum Air Galon Hingga Meninggal

Sebelumnya, Nuur telah mengaku bersalah atas enam dakwaan penyerangan yang dilakukannya terhadap Sulis pada persidangan September lalu.

Pengadilan akan mempertimbangkan kembali sembilan dakwaan lain, terutama pelanggaran serupa.

Saat peristiwa itu terjadi, Nuur adalah karyawan Singtel, perusahaan telekomunikasi Singapura, yang ditugaskan di pusat kontak Kementerian Tenaga Kerja.

Sementara Sulis mulai bekerja di apartemen milik Nuur di Yishun pada Desember 2017.

Awal Insiden

Insiden bermula ketika Nuur terbangun karena tangisan putrinya dan mengetahui bahwa Sulis lupa mengoleskan salep pada perut si anak.

Nuur kemudian meludahi Sulis dan menampar wajahnya dua kali. Penganiayaan berikutnya berlanjut pada Februari 2018.

Nuur sempat berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya, tapi kemudian penganiayaan kembali berlanjut pada 21 April 2018 setelah Nuur menelusuri ponsel Sulis.

Mengalami Penyiksaan

Si majikan menemukan bahwa Sulis telah mengunggah foto anak-anaknya di Facebook.

“Terdakwa kesal melihat foto-foto itu. Dia marah dan menampar wajah korban dengan telepon dan tangannya, beberapa kali sebelum melemparkan telepon ke tanah. Wajah korban berdarah dan ada (tanda) kemerahan… dia menangis,” kata Wakil Jaksa Penuntut Umum, Chong Kee En.

Baca Juga :  Kabar Trump Akan Aktifkan Lagi Sanksi PBB ke Iran dan Jual Puerto Rico

Nuur kemudian menyita ponsel tersebut dan menyerang Sulis hampir setiap hari selama sekitar sepekan pasca insiden tersebut.

Pada 29 April di tahun yang sama, Sulis berhasil mengambil ponselnya dan menyembunyikannya saat ingin menelepon agen yang menyalurkan dirinya.

Setelah mengalami serangkaian penganiayaan, Sulis memutuskan melarikan diri melalui balkon karena pintu depan apartemen sang majikan terkunci.

Dia nekat menuruni balkon apartemen majikannya dari lantai 15 lantaran tidak tahan dengan perlakuan kasar majikannya.