30 Oktober 2020

Berita Indonesia dan Dunia, Kabar terbaru terkini, Politik, Peristiwa, Bisnis, Bola, Teknologi dan Peristiwa

Presiden Meksiko Perintahkan Tangkap Aparat yang Terlibat Kasus Pembunuhan 43 Siswa

CNNdaily РJakarta, Meksiko memerintahkan tangkap aparat yang diduga terlibat dalam kasus 43 mahasiswa guru praktik yang menghilang pada 2014 lalu di daerah Guerrero.

Surat perintah penangkapan tangkap aparat tersebut diumumkan oleh Presiden Andres Manuel Lopez Obrador pada Sabtu (26/9) waktu setempat kala memberikan laporan penyelidikan panjang kasus yang belum terungkap tersebut.

“Perintah telah dikeluarkan untuk penangkapan personel militer,” kata Lopez Obrador dalam sebuah acara bersama orang tua mahasiswa yang hilang tersebut.

“Tanpa impunitas, mereka yang terbukti terlibat akan diadili,” tambahnya.

Meski begitu, presiden tidak memberikan detail lebih lanjut terkait tuduhan terhadap para tersangka.

Pada 2014 lalu, kasus 43 mahasiswa yang menghilang ini menggegerkan publik Meksiko.

Protes

Mahasiswa yang juga berprofesi sebagai guru praktik tersebut dilaporkan pergi dengan lima bus untuk melakukan protes.

Namun di tengah jalan, mereka dihentikan oleh oknum polisi di kota Iguala, Guerrero dan kemudian ditangkap serta diserahkan ke kartel narkoba Generasi Baru Jalisco (CJNG). Amerika Serikat kala itu menyebut mereka sebagai kelompok terkuat di Meksiko.

Baca Juga :  5 Cara Pertahankan Chemistry dalam Hubungan

Jaksa mengatakan kartel mengira para mahasiswa tersebut adalah anggota geng lawan yang kemudian dibunuh, dibakar di tempat pembuangan sampah, dan sisa-sisanya dibuang ke sungai.

tangkap aparat

Kelompok kriminal di Meksiko kerap menculik, menyiksa, memutilasi dan melarutkan korbannya dalam cairan asam. Sisa-sisa jenazahnya kemudian dibuang di pekuburan tersembunyi.

Sebuah laporan resmi yang ditampilkan pada Januari 2015 oleh pemerintah saat itu, Presiden. Enrique Pena Nieto, ditolak oleh kerabat korban juga ahli independen dari Komisi Hak Asasi Manusia Inter-Amerika karena dianggap salah.

Setelahnya, keluarga korban menuntut jawaban pemerintah, dan telah lama mengkritik militer tidak melakukan apa pun untuk melindungi para siswa dan bahkan mungkin menjadi kaki tangan dalam kasus tersebut.