14 Mei 2021

Berita Indonesia dan Dunia, Kabar terbaru terkini, Politik, Peristiwa, Bisnis, Bola, Teknologi dan Peristiwa

menguji-kekuatan-superhero

Kekuatan Superhero Lokal di Industri Film

CNNdaily.net, Jakarta – Tahun ini tentu menandai momentum kebangkitan pahlawan super lokal di kancah perfilman Indonesia. Serangkaian film yang menyoroti kisah asli pahlawan dari karakter kartun lama siap membawa nostalgia ke masa lalu.

Momen kebangkitan lokal para pahlawan ditandai dengan kehadiran film “Gundala: Negara ini membutuhkan patriot” dari Bumilangit Studio, Skenario Film dan rumah produksi Legacy Pictures, disiarkan sejak 29 Agustus. Kehadiran film ini bisa menjadi awal untuk membangkitkan cinta pahlawan lokal bagi generasi muda, di tengah gempuran para pahlawan luar negeri Hollywood.

Upaya untuk menghidupkan kembali karakter pahlawan dari karakter komik kuno dan novel juga telah ditunjukkan sebelumnya melalui film “Wiro Sableng” tahun lalu. Pada saat itu, pidato penonton cukup bagus, sebagaimana dibuktikan oleh keberhasilan film tersebut, yang mengumpulkan sejuta penonton lagi dalam sembilan hari menonton. Keberhasilan ini diikuti oleh “Gundala”, yang juga berhasil menarik sejuta pemirsa tambahan selama satu minggu siaran.

Baca juga : Viral Ibu-Ibu Dipanggil nenek, karena gondong lelaki ini disebut “Embak”

Hasil ini tentu merupakan sinyal positif bagi perkembangan sinema nasional. Tentu saja, dalam beberapa tahun terakhir, keberadaan pahlawan super asal Indonesia tampaknya terpinggirkan oleh invasi besar film adaptasi buku komik berteknologi tinggi Marvel Comics oleh Avengers dan DC Comics oleh Superman atau Batman. Kehadiran karakter fiktif dari negara Paman Sam telah menyihir banyak orang, tua dan muda.

Larisnya film-film superhero luar negeri ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para sineas lokal. Mampukah Wiro Sableng dan Gundala menjadi pemacu kemunculan film jagoan lokal bersaing di industri film?

Baca Juga :  Cara Mudah Mengirim Direct Message Instagram di PC

Pemerhati film Shandy Gasela mengatakan, peluang superhero lokal diterima penonton itu tetap ada. Buktinya, kata dia, dalam dua hari penayangannya, ‘Gundala’ meraih lebih dari 300.000 penonton dan dalam seminggu sudah mencapai angka 1 juta penonton.

Dia memperkirakan jumlah penonton film yang disutradarai oleh Joko Anwar itu akan terus bertambah karena sampai pekan ini masih diputar di sejumlah bioskop. Dia bahkan berani memperkirakan jumlah penonton film ‘Gundala’ bisa mencapai angka 3-4 juta.

“Semestinya angka 3-4 juta penonton bukan hal yg mustahil untuk dicapai. Kita tentu bangga bila punya film jagoan sendiri,” kata dia.

Dia menabahkan, ‘Gundala’ bukan film jagoan pertama yang ada diproduksi di Tanah Air. Akan tetapi menurutnya, film ini adalah yang pertama dibuat dengan serius baik dari production value maupun dari segi kreatif. “Dalam bahasa sederhana, Gundala tuh enggak malu-maluin hasil film,” ungkapnya.

Shandy menuturkan, untuk bisa sukses dan diterima khalayak, film superhero lokal sebaiknya tidak mesti mengekor Amerika yang selama ini menjadi kiblat perfileman dunia. Apalagi, jika melihat secara industri di Amerika jauh lebih mapam ketimbang di Indonesia atau negara mana pun di dunia.

Baca juga : Dapatkan Lima Manfaat Seks Sehabis Pertengkaran

“Lihat saja bila mereka membuat satu film superhero, bujetnya triliunan rupiah, kita masih milyaran, itu pun di bawah Rp30 miliar,” katanya.

Joko Anwar, sutradara ‘Gundala’ mengatakan bahwa ‘Gundala’ adalah film superhero Indonesia yang dibuat dengan kearifan lokal. Meskipun ada adegan perkelahian, ujar dia, tapi dia tidak menyajikan unsur sadistis sehingga film ini bisa ditonton oleh seluruh masyarakat Indonesia mulai dari usia 13 tahun.

Baca Juga :  BCL Bersaing dengan Raisa untuk Batik Music Festival 2019?

Perihal produksi filmnya, Joko mengklaim bahwa pihaknya memang menggunakan banyak talent serta CGI (Computer Generated Image). Namun, hal itu tidak membuat biaya produksinya membengkak. “Kalau ada yang bilang Rp70 miliar, kita malahan setengahnya enggak ada,” kata dia.

Dia menambahkan, film ‘Gundala’ mewakili kerinduan rakyat Indonesia untuk sosok yang bukan saja dekat dengan masyarakat tetapi juga seorang patriot. Dalam arti, seorang tokoh yang mementingkan orang banyak ketimbang diri sendiridi mana sifat seperti itu dirasa jarang di Indonesia.

“Makanya saya coba angkat isu sosial yang hangat terjadi saat ini kayak pertentangan pekerja pabrik dan pengusaha,” tuturnya.

Sementara itu, produser film ‘Gundala’, Wicky V Olindo mengaku senang sekaligus gugup menanti respons penonton yang menyaksikan film yang merupakan pembuka dari seri superhero lainnya yang juga akan diproduksi.

“Jujur saya nervous. Enggak pernah kayak gini saat saya merilis film-film sebelumnya, gugup saya meski setelah nonton film ini ramah untuk usia 13 tahun keatas,” kata Wicky.

Produser dari rumah produksi Screenplay Pictures itu mengatakan, Gundala adalah film pertama yang akan membuka semesta Jagat Sinema Bumilangit (JSB).

“Ini seperti mimpi. Saya adalah generasi yang membaca komik Gundala. Saya nge-fans sama Bumilangit ini dan bisa kerja sama kayak mimpi yang menjadi kenyataan,” kata dia.

Tak hanya berhenti dalam film Gundala, Screenplay Picture juga mengumumkan akan membuat film ‘Sri Asih’, karakter komik di era tahun 1950-an. Nantinya, karakter jagoan perempuan itu akan diperankan oleh aktris muda Pevita Pearce.

Baca Juga :  Agnez Mo : Saya Tak Punya Darah Indonesia Dan Indonesia Bukan Tempat Saya

“Kita ingin ada pergantian karakter superhero dari Gundala ke Sri Asih. Ia akan mewakili kekuatan seorang perempuan, girl power,” ucap Wicky.

Dia menambahkan, Gundala diklaim sebagai prestasi tersendiri di industri fim Indonesia. Pasalnya, film itu akan diputar di program Midnight Madness dan menjadi satu-satunya film Asia Tenggara yang diputar dalam program tersebut.

Selain itu, Gundala juga akan diputar di Toronto International Film Festival (TIFF) 2019 yang dihelat 5-15 September 2019. Festival film ini merupakan salah satu dari lima festival film paling bergengsi dan terbesar di dunia, di samping Cannes Film Festival, Venice Film Festival, Berlin Film Festival, serta Sundance Film Festival. Setiap tahunnya, TIFF dikunjungi sekitar 500.000 penonton.

Sebagai informasi, film ‘Gundala’ menceritakan tentang Sancaka alias Gundala (Abimana Aryasatya) yang menjalani hidup tanpa orangtuanya. Saat tumbuh besar, Sancaka melihat keadaan kota semakin buruk dan ketidakadilan berkecamuk di seluruh negeri. Sancaka harus memutuskan apakah harus tetap hidup menjaga dirinya sendiri atau bangkit menjadi pahlawan mereka yang tertindas.

Gundala menjadi gerbang pembuka dalam Jagat Sinema BumiLangit Studios. Selain Sri Asih, akan ada film superhero lokal yang bakal diproduksi antara lain Godam, Aquanus, dan tokoh komik lainnya yang berjaya di era tahun 1960-1980an.

Gundala sendiri merupakan film yang diadaptasi dari novel karya Harya Suraminata (Hasmi) yang dirilis 1969. Penggarapan film ini cukup lama yakni dua tahun. Ini karena proses pasca produksi saja memakan waktu sekitar hampir setahun.