18 Mei 2021

Berita Indonesia dan Dunia, Kabar terbaru terkini, Politik, Peristiwa, Bisnis, Bola, Teknologi dan Peristiwa

Mie scattering jambi

Fakta-fakta tentang langit merah Muaro

cnndaily.net, Bali – Langit Muaro Jambi merah, Sabtu 21 September 2019. Meskipun kualitas udara di Muaro Riau bahkan lebih baik dari hari itu, tetapi hanya wilayah ini yang mengalami fenomena tersebut.

Gambar langit merah Muaro itu menjadi viral. Pada pandangan pertama, foto-foto ini sebagaimana telah diubah. Bahkan, itu adalah seperti itu yang terjadi di empat desa di Kecamatan Kumpeh Kabupaten Muaro Jambi.

Warga sendiri tidak mengharapkan langit merah di desa, seperti suasana di film superhero ketika musuh menyerah tengah-tengah kota.

The subzones produksi Kepala Badan Iklim dan informasi di kualitas udara Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Siswanto mengatakan bahwa fenomena ini dapat dijelaskan secara ilmiah.

Di sini, fakta-fakta tentang berdasarkan penjelasan langit merah disusun cnndaily.net Muara Jambi BMKG:

Baca juga: Kode-Kode Pria Tertarik pada Anda

Unsur mistis Orang
The subzones produksi Kepala Badan Iklim dan informasi di kualitas udara Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Siswanto mengatakan bahwa fenomena ini dapat dijelaskan secara ilmiah. Tidak ada unsur mistis dalam fenomena ini.

Baca Juga :  Dianiaya 11 Orang, Petani di Karo Tewas dengan Luka Bacok di Kepala

Menurut dia, hasil analisis citra satelit Himawari-8 September 21, 2019 untuk Muaro sekitar, menunjukkan banyak hot spot dan distribusi asap sangat padat. Akibatnya, asap di Muaro terlihat berbeda dari daerah lain juga mengalami kebakaran dan lahan hutan.

“Daerah lain pada satelit tampak warna coklat tapi Muaro menunjukkan warna putih yang menunjukkan lapisan asap sangat tebal. Hal ini dimungkinkan karena lahan kebakaran / hutan terjadi di wilayah tersebut, terutama di lahan gambut, “kata Siswanto, di tekan pada langit merah Muara Jambi, Jakarta, Minggu (22/09/2019).

Karena ukuran partikel di udara
kata Siswanto, jika ditinjau dari teori fisika atmosfer, pada panjang gelombang cahaya tampak, langit merah yang disebabkan oleh dispersi cahaya matahari oleh partikel tersuspensi di udara kecil (aerosol ).

Fenomena ini dikenal sebagai difusi mie (Mie Scattering). Mie Scattering terjadi ketika diameter polutan dalam aerosol atmosfer sama dengan panjang gelombang cahaya tampak (visible) berjemur.

“Panjang gelombang cahaya merah adalah ukuran 0,7 mikrometer. Kita tahu bahwa konsentrasi debu polusi partikel kurang dari 10 mikron sangat tinggi di sekitar Jambi, Palembang dan Pekanbaru. Tapi berbalik langit merah terjadi di Muaro. Ini berarti bahwa polutan debu DOMINAN di daerah berukuran sekitar 0,7 mikron atau lebih dengan konsentrasi yang sangat tinggi. dalam konsentrasi yang lebih tinggi dari distribusi partikel polutan ini juga harus Luas dapat melakukan langit merah“, menulis Siswanto.

Baca Juga :  Minum Teh Panas Menyebabkan Resiko Kanker

Baca juga: Yogya Berdarah, Seorang Pelajar Dikeroyok Dan Dibacok Perutnya Hingga Tewas

Tidak pernah diproduksi di Pekanbaru
Data BMKG Mengungkapkan, pada tahun 2015, fenomena ini terjadi di Palangkaraya. Pada saat itu, langit Palangkaraya oranye, kebakaran hutan dan lahan.

“Ini berarti bahwa ukuran partikel polutan debu (aerosol) ketika itu lebih kecil / tipis dominan (partikel halus) dari fenomena langit Muaro dibilas tepat waktu,” kata Siswanto dalam versi tertulis BMKG.