16 Januari 2021

Berita Indonesia dan Dunia, Kabar terbaru terkini, Politik, Peristiwa, Bisnis, Bola, Teknologi dan Peristiwa

China Siap Berbagi Pengalaman Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 Dengan RI

CNNdaily – Jakarta, China menyatakan siap mempererat hubungan dan berbagi pengalaman pencegahan dan pengendalian epidemi dengan Indonesia.

Hal itu diutarakan Menteri Luar Negeri China Wang Yi saat melakukan telepon dengan Menlu RI Retno Marsudi pada Senin (23/11).

Wang menganggap situasi pandemi virus corona (Covid-19) di dunia saat ini masih suram. Namun, China, kata Wang, meyakini bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, masyarakat Indonesia bisa mengalahkan pandemi corona.

Wang mengatakan China mengapresiasi Indonesia karena memainkan peran penting sebagai negara besar di kawasan dengan pengaruh global dalam mempromosikan perdamaian dan pembangunan di tengah pandemi virus corona (Covid-19).

“China bersedia terus berbagi pengalaman dalam pencegahan dan pengendalian epidemi dengan Indonesia, memberikan dukungan dan bantuan dengan kemampuan terbaik China dan bersedia terus memperdalam kerja sama pengadaan vaksin dengan Indonesia,” kata Wang seperti dikutip kantor berita Xinhua.

Sementara itu, Retno mengatakan kerja sama RI-China dalam penelitian dan pengembangan vaksin mencerminkan hubungan bilateral yang kuat.

Retno juga berterima kasih kepada China atas dukungan kuatnya bagi Indonesia dan berharap kedua negara bisa terus mempromosikan kerja sama pengadaan vaksin.

Bahaya Penolakan Testing dan Tracing

Penolakan warga untuk mengikuti testing, tracking, dan treatment (3T) dapat memperbesar risiko penularan Covid-19 hingga pada risiko kematian.

Baca Juga :  5 Buah Bermanfaat Menjaga Kesehatan Ginjal

Satgas Covid-19 menyebut mereka yang masih menolak mengikuti 3T harus diberi pemahaman. Jika tidak mereka akan menjerumuskan diri pada penderitaan.

Kepala Sub Bidang Tracking Satgas Covid19 Kusmedi Priharto mengungkap salah satu tujuan 3T bagi orang yang terpapar Covid-19 adalah keselamatan diri.

berbagi pengalaman

Ia menyebutkan pasien yang terdeteksi lebih awal akan lebih mudah dirawat, sebelum rasa sakit Covid-19 kian memburuk. Angka kesembuhan karena perawatan cepat ini berada di atas 80 persen.

Keterlambatan penanganan ini sangat berisiko karena dapat menyebabkan kematian. Padahal jika akses tersedia, yakni melalui 3T, seharusnya kematian ini dapat dihindari. Belum lagi penularan ke orang-orang terdekat mereka.

Ia menyebut pencapaian target ini tidak mudah karena ada penolakan. Jalinan koordinasi hingga tingkat RT pun dilakukan dengan melibatkan 7.000 petugas pelacakan.

Mereka melacak di di 1.612 puskesmas di 51 kabupaten/kota dalam 10 provinsi.