4 Agustus 2021

Berita Indonesia dan Dunia, Kabar terbaru terkini, Politik, Peristiwa, Bisnis, Bola, Teknologi dan Peristiwa

Warga Wuhan yang Positif Corona, 10 kali dari Angka Resmi Pemerintah

CNNdaily – Wuhan, Studi Survey yang dilakukan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di China menyebut angka orang yang terinfeksi virus corona di Wuhan pada masa awal pandemi Covid-19, 10 kali lebih banyak dari angka resmi yang dirilis pemerintah China.

Dengan demikian, setidaknya 500 ribu orang telah terinfeksi virus corona di Wuhan saat itu. Studi ini menggunakan sampel dari 34 ribu orang yang berasal dari daratan China, yaitu di wilayah Wuhan, Provinsi Hubei, Beijing, Shanghai dan Guangdong untuk memprediksi tingkat penyebaran Covid-19.

Hasil studi tersebut diungkap pada unggahan CDC China di media sosialnya pada Senin (28/12). Namun tidak disebutkan apakah penelitian tersebut sudah dipublikasikan atau belum di jurnal akademik.

Para peneliti menemukan tingkat prevalensi antibodi Covid-19 antara 4,43 persen di antara penduduk di Kota Wuhan yang merupakan Kota metropolitan berpenduduk 11 juta orang.

Penelitian tersebut bertujuan untuk memperkirakan skala infeksi masa lalu dalam satu populasi. Metode yang digunakan dengan cara menguji sampel serum darah dari beberapa orang, untuk mengtahui antibodi virus Corona.

Namun, temuan ini tidak bermaksud menjadi rujukan akhir soal beberapa banyak orang yang telah terpapar virus di daerah tertentu.

Baca Juga :  Sungai di Korsel Berubah Warna Menjadi Merah, Apakah Tercemar Darah Babi Atau...?

Badan kesehatan itu menyebut penelitian dilakukan sebulan setelah China melewati gelombang pertama pandemi Covid-19. Tingkat prevalensi di luar Kota Wuhan secara signifikan lebih rendah.

Studi tersebut juga menunjukan di Provinsi Hubei hanya 0,44 persen penduduk dengan antibodi virus corona.

10 kali lebih banyak

Yanzhong Huang, senior kesehatan global di Council on Foreign Relation mengatakan, studi tersebut menunjukan masalah kurangnya pelaporan infeksi selama puncak pandemi terjadi di Wuhan. Sebagian karena kacaunya situasi saat itu.

Pada bulan Januari dan Februari, pasien dengan gejala demam membanjiri rumah sakit Wuhan. Saat itu petugas kekurangan alat tes, sumber daya medis, dan tenaga medis untuk merawat pasien.

Pada peristiwa tersebut banyak pasien yang dianjurkan untuk pulang dan merawat diri di rumah masing-masing. Hal tersebut berdampak menularkan virus kepada keluarganya, dan meninggal di rumah tanpa tercatat dalam jumlah korban tewas akibat Covid-19.

Di samping itu, di China banyak pertanyaan tentang transparansi otoritas terkait jumlah kasus. Sejak 12 Februari, otoritas kesehatan Hubei mulai memasukan akumulasi kasus positif. Di hari itu terdapat 13 ribu kasus yang didiagnosisi oleh pemerintah setempat.

Baca Juga :  Kasus Corona di Rusia Melonjak dari 20 ke 198 Ribu dalam 2 Bulan

Dokumen yang diduga bocor dari Pusat pengendalian dan Pencegahan Penyakit Provinsi Hubei mengungkap sebuah fakta, yang merujuk sebelum pengumuman tersebut. Pada data tersebut disimpulkan bahwa kasus yang didiagnosisi secara klinis tidak diungkapan yang sebenarnya kepada publik.

Pemerintah Hubei juga memberikan laporan kematian yang rendah pada 10 Februari dan 7 Maret, padahal data tersebut tidak sesuai dengan catatan internal yang sebenarnya.

Pihak berwenang juga menindak jurnalis yang melaporkkan fakta pahit dari membeludaknya pasien di rumah sakit Wuhan.

Zhang Zhan seorang pengacara yang pernah mendokumentasikan wabah di Wuhan dijatuhi hukuman empat tahun penjara, karena dianggap memprovokasi dan memperkeruh suasana di Wuhan.

Dua jurnalis independen lainnya – Li Zehua dan Fang Bin – juga ditahan karena liputan mereka tentang wabah tersebut.

Lockdown Wuhan Dinilai Efektif

Studi ini juga menyoroti soal efektivitas lockdown yang dilakukan pemerintah China untuk menahan penyebaran virus corona ke wilayah lain di negara itu.

Hal ini berdasarkan hasil studi yang melihat perbedaan besar antara prevalensi antibodi virus corona yang terdapat di kota Wuhan dibanding kota lain di China.

Yanzhong Huang mengatakan, rendahnya rata-rata kasus di kota lain di China mengindikasikan, “upaya (pemerintah) China menahan gelombang (Covid-19) memang cepat dan efektif, terutama dibandingkan dengan kota-kota seperti New York, ” ujar Huang.

Baca Juga :  Warga Usia Bawah 45 Tahun Boleh Kembali Beraktivitas untuk Tekan PHK

Dalam upaya pencegahan virus, Wuhan menutup semua akses dari dan ke luar negeri pada 23 Januari.

10 kali

Di dalam Kota, pemerintah memberlakukan karantina wilayah yang ketat selama lebih dari dua bulan. Transportasi umum diberhentikan, bisnis ditutup, dan jutaan penduduk dikurung di rumah.

Namun penguncian wilayah yang dilakukan kurang lebih 76 hari ini mengakibatkan biaya kehidupan yang cukup besar untuk beberapa masyarakat. Terutama warganya harus mengeluarkan uang lebih untuk berpergian, karena hanya diperbolehkan menggunakan taxi saja.

Sementara itu, berkat penanganan yang dilakukan oleh pemerintah Wuhan untuk menekan laju pandemi, CDC China menyoroti penanganan China dalam membendung virus tersebut saat merilis hasil studi antibodi.

“Hasil studi menunjukkan bahwa populasi negara kita (China) memiliki tingkat infeksi yang rendah. Ini menunjukkan bahwa China telah berhasil mengendalikan epidemi dengan Wuhan sebagai medan perang utama, dan secara efektif mengendalikan penyebaran epidemi skala besar, ” ujar CDC Senin (28/12).