Beijing Darurat Corona, Gelombang Kedua COVID-19 Membayangi China

jokervip123

CNNdaily – Beijing, Setidaknya 130 orang dinyatakan positif Virus Corona di Beijing, China. Akibatnya, status siaga COVID-19 kembali diberlakukan. Lockdown diterapkan di sejumlah wilayah, sekolah ditutup lagi, lebih dari 1.000 penerbangan dibatalkan. 

Situasi teranyar membuktikan, wabah COVID-19 belum hengkang dari Tiongkok. Meski, dua bulan sebelumnya, kasus baru dilaporkan nihil. Kabar itu sekaligus jadi peringatan keras untuk dunia: corona bisa kembali kapan saja tanpa terduga. 

Pasar induk Xinfadi dilaporkan jadi klaster baru. Pasar yang menjajakan buah, sayuran, dan daging itu kemudian  ditutup pada Sabtu 13 Juni dini hari, setelah dua orang pengunjung dinyatakan terinfeksi COVID-19.

Tes terhadap 517 orang kemudian dilakukan di pasar. Hasilnya menunjukkan 45 orang telah terinfeksi virus corona baru. Ribuan orang yang pernah menginjakkan kaki di sana diminta mengisolasi diri selama 14 hari. 

Jejak virus dilaporkan ditemukan di talenan yang digunakan untuk memotong salmon impor. Toko-toko di seluruh kota pun langsung menarik salmon dari rak-rak dagangan mereka.

Pang Xinghuo, Wakil Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Kota Beijing mengungkap, para pasien merupakan orang yang bekerja di pasar itu atau terpapar secara langsung maupun tidak langsung dengan lokasi itu.

“Sebanyak 27 dari 36 kasus positif merupakan orang yang bekerja di Xinfadi, sementara yang lainnya adalah orang yang telah mengunjungi pasar itu atau melakukan kontak dengan orang-orang yang kembali dari lokasi tersebut.”

Dalam salah satu kasus, seorang wanita berusia 31 tahun belum pernah ke pasar Xinfadi, namun suaminya “terpapar secara konstan” dengan pasar makanan laut tersebut. Pasien lainnya, seorang wanita berusia 34 tahun, bekerja di sebuah restoran yang mendapatkan bahan-bahannya dari Xinfadi.

Baca Juga :  Sri Mulyani : Rupiah Bisa Tembus Rp 17.500-Rp 20.000 Karena Imbas dari Corona

Pada Rabu (17/6/2020),  Beijing melaporkan total 557 kasus baru yang ditularkan secara lokal per 16 Juni, termasuk 411 pasien yang sudah dipulangkan dari rumah sakit setelah dinyatakan sembuh dan 9 kematian. Sisanya, 137 pasien masih menjalani perawatan medis, dan 12 kasus tanpa gejala kini dalam pengawasan medis.

Status tanggap darurat COVID-19 di Beijing pun naik dari level III ke level II mulai Selasa 16 Juni. Dan, Bandara Beijing juga membatalkan 1.255 penerbangan atau 70 persen dari total penerbangan per harinya.

“Situasi epidemi di ibu kota sangat parah,” kata juru bicara pemerintah Kota Beijing, Xu Hejian, seperti dilansir AFP.

Kekhawatiran munculnya gelombang kedua Virus Corona COVID-19 di China didasarkan pada luasnya pasar induk Xinfadi sebagai lokasi wabah baru. Di pasar itu ribuan ton daging, sayur dan buah-buahan bertukar tangan setiap hari. 

Beijing

Dengan kompleks seluas 160 lapangan sepakbola, Xinfadi tidak hanya tercatat sebagai pasar bahan pangan terbesar di Asia, tetapi juga 20 kali lipat lebih luas ketimbang pasar daging di Wuhan, yang menjadi lokasi wabah Virus Corona pertama.

Distrik Fengtai, tempat pasar Xinfadi berada, mulai Sabtu 13 Juni pun langsung mengaktifkan mode “mekanisme perang” dan pembentukan pusat komando untuk mengekang penyebaran virus.

Baca Juga :  China Mulai Longgarkan Lockdown, Tingkat Polusi Kembali Menuju Semula

Karena kekhawatiran munculnya gelombang kedua itu, kegiatan belajar di kelas langsung juga dipindahkan ke media daring bagi siswa sekolah dasar dan menengah. Sedangkan pembukaan kembali perguruan tinggi akan ditangguhkan untuk sementara waktu, kata Chen Bei, Wakil Sekretaris Jenderal Pemerintah Kota Beijing.

Situasi epidemi di Beijing menjadi suram sejak Ibu Kota China itu melaporkan dua digit angka kasus baru harian yang ditularkan secara lokal pada 11 Juni, setelah 57 hari berturut-turut mencatat nol kasus baru yang ditularkan secara lokal.

Chen mengungkap, klaster wabah yang telah memengaruhi 9 distrik dan 28 permukiman, awalnya diyakini sebagai akibat dari penularan antarmanusia atau kontaminasi benda dan lingkungan. Dia menekankan, ada laporan infeksi sekunder di antara orang-orang yang melakukan kontak dekat.

Sejauh ini, Beijing mendaftarkan 27 lingkungan permukiman sebagai zona berisiko menengah dan satu lingkungan berisiko tinggi. Semuanya kini dalam status lockdown atau penguncian wilayah.

Orang-orang yang tinggal di lingkungan berisiko menengah dan tinggi, jelas dia, serta orang-orang yang berhubungan dengan pasar produk pertanian Xinfadi, tempat sebagian besar kasus baru saling terkait, untuk sementara tidak diizinkan meninggalkan Beijing. Orang-orang di luar kelompok tersebut yang perlu meninggalkan ibu kota wajib memiliki hasil negatif dari tes asam nukleat yang membutuhkan waktu tujuh hari.

“Orang-orang yang memasuki Beijing dari luar negeri akan ditempatkan di bawah pengawasan medis di beberapa tempat yang sudah ditunjuk, dan wajib menjalani tes asam nukleat,” tegas Chen, seperti dilansir Xinhua.

Otoritas Beijing akan secara ketat memastikan langkah-langkah pencegahan epidemi di pasar produk pertanian, restoran dan kantin, serta meningkatkan pemantauan. Karyawan yang bekerja di tempat-tempat tersebut wajib mengenakan masker dan sarung tangan.

Baca Juga :  Ibadah Umroh dihentikan, Pemerintah Diminta Untuk Meyakinkan Indonesia Bebas Virus Corona

Otoritas ibu kota juga meminta tim olahraga tertentu seperti bola basket, sepak bola dan bola voli, untuk sementara menghentikan kegiatannya. Tempat-tempat hiburan budaya, kolam renang umum dan pusat kebugaran juga masih akan ditutup.

“Kegiatan wisata tur kelompok antarprovinsi untuk sementara ditangguhkan,” imbuh Chen.

Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Cina, Gao Fu menduga, gelombang kedua Virus Corona COVID-19 di Beijing sudah dimulai sejak Mei. Hal itu mengacu pada lama masa inkubasi virus Corona yang rata-rata memakan waktu 14 hari.

“Sangat mungkin sudah ada banyak pasien tanpa gejala (asymptomatic) atau carrier ringan selama bulan Mei. Itulah kenapa, tiba-tiba, ada banyak kasus bulan ini. Hal itu tengah kami verifikasi,” ujarGao Fu dikutip dari South China Morning Post.

Menurutnya, Virus Corona bisa berinkubasi di lokasi-lokasi gelap, lembap, dan kotor. “Hal itu tidak disadari oleh banyak orang. Mereka yang tidak sadar kemudian terpapar Virus Corona setelah masa inkubasi. Saya menyakini hal itu yang terjadi di Beijing,” Gao Fu memungkasi.

Sementara itu, berdasarkan update data yang dirilis Kementerian Luar Negeri RI lewat akun Instagram @safetravel.kemlu, hingga Rabu 17 Juni 2020 pukul 08.00, tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang terpapar, dirawat, maupun meninggal dunia di China daratan.

Dari data yang diperbarui setiap hari tersebut, dilaporkan ada tiga WNI di Makau yang terpapar Corona COVID-19 (berstatus sembuh) dan tiga orang lainnya di Taiwan (juga berstatus sembuh).

Lewat perwakilan Indonesia, KBRI Beijing membenarkan adanya kekhawatiran penyebaran Corona COVID-19 gelombang kedua di China.

Beijing raises emergency response level… All Indonesians in Beijing please be updated and observe current local regulations. Keep healthy and safe,” tulis akun resmi @KBRI_Beijing pada 17 Juni 2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *